Jurnal
Kajian Kondisi Bangunan Tinggi di Jakarta Menggunakan Rekaman Akselerograf Studi Kasus Gedung BMKG Jakarta tahun 2014
Jakarta dikenal sebagai kota dengan populasi terpadat dan pembangunan sangat pesat di Indonesia, penting untuk dikaji kondisi bangunan-bangunan yang berdiri di atasnya. Peta distribusi episenter wilayah Jakarta tahun 1980-2015 (BMKG) menunjukkan bahwa tidak ada episenter berpusat di Jakarta. Data tersebut wajar karena Jakarta tidak berhadapan langsung dengan jalur subduksi atau berdiri di atas sesar, namun gempabumi yang jauh masih dapat dirasakan di Jakarta. Untuk menjawab permasalahan tersebut, perlu dikaji data seismik dari akselerograf yang ditempatkan di lantai-lantai berbeda pada suatu bangunan. Dalam penelitian ini, penulis membatasi kajian kondisi bangunan BMKG sebelum, saat dan sesudah terjadinya gempabumi. Kajian saat terjadi gempabumi dilakukan dengan mengamati nilai gerakan tanah dan durasi di tiap lantai pada waktu yang bersamaan, sedangkan kajian sebelum dan sesudah terjadi gempabumi dilakukan dengan mengamati nilai frekuensi atau periode dominan bangunan. Penulis hendak menentukan nilai gerakan tanah maksimum, respon spektrum,dan durasi efektif tiga rekaman gempabumi terbaik serta menentukan frekuensi dominan di tiga lantai berbeda (dasar, tengah, dan puncak) pada bangunan. Hasil pemrosesan data gempabumi menunjukkan bahwa nilai gerakan tanah maksimum, respon spektrum, dan beberapa durasi semakin tinggi seiring dengan bertambahnya ketinggian bangunan, dari dasar ke puncak. Kenaikan ini mengindikasikan terjadinya resonansi antara periode gempabumi dengan periode dominan bangunan. Hasil pemrosesan data mikrotremor berupa frekuensi dominan menunjukkan secara keseluruhan tidak mengalami perubahan nilai di tiap lantai, baik sebelum ataupun sesudah gempabumi. Ini menandakan tidak ada kerusakan pada bangunan.
| JURPDFG16002.1 | 551.22 JUL k | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain