Tugas Akhir
STUDI AWAL PREDIKSI POTENSI PERTUMBUHAN AWAN CUMULONIMBUS (CB) MENGGUNAKAN METODE EMPIRIK SEDERHANA
ABSTRAK
Awan Cumulonimbus (Cb) terjadi karena adanya sirkulasi konvektif daerah arus udara ke atas dan arus udara ke bawah. Awan konvektif jenis ini disebabkan pemanasan permukaan oleh radiasi matahari. Studi mengenai awan Cb penting di kalangan para ilmuwan cuaca ataupun penerbang. Sebab selain menghasilkan hujan intensitas lebat, guruh dan kilat, awan dengan jenis ini dapat menyebabkan icing pada mesin pesawat. Karakteristik awan ini adalah tumbuh cepat pada suatu daerah dengan cakupan kecil (satu sel konvektif).
Oleh karena adanya fluktuasi yang cepat tersebut, maka dalam pembuatan prakiraan cuaca jangka pendek dibutuhkan rumusan sederhana dan mudah dipahami. Rumusan tersebut dapat dikaji dari parameter cuaca berupa perbedaan suhu jam 00.00 dan 03.00 UTC (ΔT00-03UTC), kelembaban relatif (RH) di lapisan 700 hPa, serta angin di ketinggian 850 hPa. Operasional BMKG pusat telah menggunakan rumusan sederhana ini untuk keperluan nowcasting khususnya pembuatan prakiraan cuaca.
Dari pengolahan data synop udara permukaan dan udara atas, serta kelembaban level 700hPa pada tahun 2012 diketahui bahwa rumusan empirik sederhana prediksi pertumbuhan awan Cb yang diterapkan operasional BMKG pusat di Jakarta memiliki nilai akurasi lebih dari 70% untuk Stasiun Meteorologi Ngurah Rai, Bali. Dimana nilai ambang batas setiap parameter cuaca diklasifikasikan berdasar potensi pertumbuhan awan Cb, yakni Potensi Pertumbuhan Cb Rendah, bila ΔTpermukaan (|T00-T03|) ≤ 2,6 ˚C, RH lapisan 700 hPa ≤ 65%, dan Angin 850 hPa ≥ 11 Knot; Potensi Pertumbuhan Cb Sedang, bila ΔTpermukaan (|T00-T03|) = 2,7˚ - 3,3 ˚C, RH lapisan 700 hPa = 66 - 80%, dan Angin 850 hPa = 6-10 Knot; Potensi Pertumbuhan Cb Tinggi, bila ΔTpermukaan (|T00-T03|) ≥ 3,4 ˚C, RH lapisan 700 hPa ≥ 81%, dan Angin 850 hPa ≤ 5 Knot
| 20131013.1 | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain